
Proyek Nuklir Mulai Menjadi Kenyataan di Indonesia, dan Ini Buktinya! – Komitmen Indonesia untuk melengkapi diri dengan pembangkit listrik tenaga nuklir juga akan diwujudkan melalui pembentukan Organisasi Pelaksana Program Energi Nuklir (NEPIO) yang akan diumumkan kepada publik internasional dalam waktu dekat.
Pemerintah menargetkan tersambungnya Indonesia dengan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pada tahun 2032-2033. Pembentukan Organisasi Pelaksana Program Energi Nuklir (NEPIO) di Austria rencananya akan diumumkan minggu depan.
Penyaluran tenaga listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir diatur dalam rancangan Peraturan Negara tentang Kebijakan Energi Nasional (RPP KEN). Tujuannya adalah untuk mulai terhubung ke transportasi (ke jaringan listrik) pada tahun 2032.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan poin terpenting dari RPP KEN adalah akan diperkenalkannya tenaga nuklir pada tahun 2032, hingga 250 MW. Listiani Dewi dalam temu media di kantornya di Jakarta, Senin (9/9/2024).
Baca juga: Pembangunan Tol Pelabuhan Jakarta Utara, Rekayasa Lalu Lintas Dishub DKI hingga 2026
Komitmen Indonesia untuk memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir juga akan diwujudkan dalam pembentukan Organisasi Pelaksana Program Tenaga Nuklir (NEPIO) yang akan diumumkan kepada publik internasional dalam waktu dekat, kata Inya.
“Minggu depan kami akan bekerja sama dengan Badan Tenaga Atom Internasional di Wina (Austria) untuk membentuk NEPIO yang merupakan organisasi eksekutif nuklir yang bersifat tidak mengikat dan tidak struktural karena merupakan organisasi presiden dan dialah presidennya. jelasnya.
Meski berdirinya NEPIO tidak mewajibkan suatu negara untuk melengkapi dirinya dengan pembangkit listrik tenaga nuklir, Enea memperkirakan Indonesia memerlukannya. Sebab, membangun PLTN bisa memakan waktu lama, lebih lama dari amanat pemerintah.
Ia menambahkan: “Mungkin tahun ini, Insya Allah minggu depan kami akan menyampaikan pernyataan kepada Badan Energi Atom Internasional, dan kemudian kami akan terus melakukan restrukturisasi NEPIO.”
Waktu konstruksi proyek nuklir indonesia
Sementara itu, Haris Yahya, Kepala Balai Inspeksi dan Pengujian Ketenagalistrikan EBTKE, membenarkan pembangunan PLTN akan memakan waktu 9 hingga 10 tahun. Namun, pelaksanaan konstruksi memerlukan deklarasi nasional awal.
Jadi kalau nanti di pemerintahan baru, misalkan pemerintahan saat ini tinggal dua bulan lagi, makanya harus dimasukkan. Namun dari segi durasi konstruksi, kami jelas menargetkan tahun 2033 untuk komersial pertama. Oleh karena itu, pembangunan harus dimulai sejak dini, katanya.
Selanjutnya, proses kontrak nuklir juga harus dimasukkan dalam Rencana Umum Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dan Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN). Selain masuk dalam RPP KEN yang memerlukan sosialisasi lebih lanjut, masih diperbolehkan.
Mungkin dalam beberapa bulan ke depan, jika hal ini bisa diselesaikan, presiden berikutnya bisa membuat pernyataan nasional dan semuanya bisa berjalan baik. Namun Harris mengatakan, jika Jokowi bisa membuat pernyataan nasional sekarang, itu lebih baik.
Indonesia akan memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir pada tahun 2032
Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan Indonesia akan memiliki pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) pada tahun 2032.
Rencana tersebut telah disetujui oleh Komite Ketujuh DPR RI, dengan pengesahan rancangan Peraturan Pemerintah tentang Kebijakan Energi Nasional (RPP KEN), yang menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 11.79 Tahun 2014.
Pembangkit listrik tenaga nuklir 250 MW
Anya mengungkapkan kapasitas jaringan PLTN pertama di Indonesia akan mencapai sekitar 250 megawatt. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral saat ini sedang mempersiapkan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir bekerja sama dengan kementerian lain yang berkepentingan.
Ia menjelaskan, PLTN berkapasitas 250 megawatt itu harus sudah siap sekarang, karena waktu yang kita miliki hanya sembilan tahun lagi.
Minat investasi asing dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir
Banyak investor asing dari berbagai negara, antara lain Amerika Serikat, Rusia, Jepang, dan Korea Selatan, yang menyatakan minatnya untuk berinvestasi dalam pengembangan nuklir di Indonesia.
Namun Enea tidak membeberkan rincian nilai investasi maupun lokasi pasti pembangunan PLTN tersebut. Fokus pemerintah saat ini adalah melakukan kajian mendalam terhadap teknologi tersebut dan mengurangi risiko terhadap masyarakat sekitar.
Selain itu, perizinan mendirikan bangunan dan kajian sosial juga dievaluasi secara cermat. Ia menambahkan, pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir tidak boleh dilakukan secara terburu-buru.